Bambang Trenggono: Lelaki Adalah Imam Keluarga. Jangan Direndahkan Oleh Makmum Keluarga

Berita295 views

Pacitan- Menjalani kodrat Illahi sebagai kaum lelaki, memang sebuah konsekuensi kehidupan tak ringan. Yaitu, bersiap untuk menjadi pemimpin atau setidaknya imam dalam keluarga.

Lelaki, harus bertaji di strata sosial apapun bagi keluarganya. “Wong lanang kui kudu ngrumakapi (lelaki itu harus bisa memenuhi). Apapun kondisinya, seorang lelaki adalah imam atau pemimpin dalam keluarga,” kata sesepuh Pacitan, Bambang Trenggono, memberikan pitutur, Kamis (25/3).

Menurut Bambang, jangan sampai seorang imam keluarga, akhirnya dihinakan oleh keluarganya sendiri, hanya karena tak menyandang status sosial apapun. Atau mungkin lebih lugasnya hanya sebagai pengangguran. “Apapun itu, seorang lelaki tetap menjadi yang didepan. Mereka adalah imam yang harus diikuti dan dihormati. Jangan sampai makmum dalam keluarga, utamanya istri, memaki atau bahkan menghinakan, karena status sosial tak dimiliki oleh suaminya.

Meski belum ada pekerjaan, hargai dan hormati suami. Sebab bagaimanapun juga ia adalah pemimpin dan imam dalam keluarga,” jelasnya.

Bambang lantas menyampaikan sekilas biografi hidupnya, saat awal kali berumah tangga. “Awal menikah pada Tahun 1986 silam, saya hanya pengangguran. Sementara istri sudah bekerja sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Saat itulah, suasana kebatinan memang begitu sensitif. Akan tetapi saya tegaskan, suami harus tetap menjadi imam dalam keluarga. Apapun kondisinya itu,” terang purna bakti ASN lingkup Pemkab Pacitan ini.

Beberapa waktu kemudian, lanjut Bambang, ada salah seorang tokoh pendidikan di Pacitan, yang menawarkan kepadanya untuk membantu mengajar akuntasi disalah satu sekolah menengah kejuruan swasta kala itu.

Kebetulan, Bambang juga memiliki keahlian di bidang manajemen dan akuntansi. “Tawaran itu saya terima, sekalipun hanya mendapatkan jatah enam jam mengajar tatap muka. Kala itu setiap jamnya, saya hanya digaji Rp 1.200.

Namun jangan melihat besar atau kecilnya pendapatan. Yang terpenting adalah usaha, demi membantu ekonomi keluarga,” beber mantan Kepala Bidang Pendataan dan Penetapan, BPKAD Pacitan ini.

Hari demi hari, ia lalui dengan bekerja sebagai guru honorer. Bambang pun mengakui, untuk mendapatkan penghasilan tambahan, ia juga membuka pendidikan non formal, yaitu kursus akuntansi di kediamannya.

Meski hanya mendapatkan imbalan tak seberapa, akan tetapi setidaknya bisa menopang perekonomian keluarga. “Lelaki harus punya strong power dan jangan menyerah dengan keadaan. Janganlah kita sebagai suami diremehkan, oleh istri. Ini pembelajaran kehidupan yang harus tertanam di benak seorang lelaki,” tegasnya.

Berkat kegigihan dan kesabarannya itulah, Bambang akhirnya punya kesempatan mengikuti seleksi CPNS dan lolos diangkat sebagai abdi negara pada Tahun 1989 silam.

Hingga di akhir masa tugasnya, Bambang sempat menduduki kursi jabatan eselon III B. Tentu posisi itu menyalip pendamping hidupnya, yang lebih dulu bekerja sebagai PNS dilingkungan Pemkab Pacitan. Diakhir masa jabatannya, istri dari Bambang Trenggono, menjabat sebagai Kasubag di lingkungan Sekretariat DPRD Pacitan.(yun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed