Dimsum Sebagai Menu Firasat Kepergian Mbah Sarton

Berita724 views

Pacitan- Almarhum Joko Sartono, atau lebih karib disapa Mbah Sarton, adalah sosok humanis dan banyak diterima di strata sosial apapun.

Tak hanya dilingkungan perpolitikan lokal dan juga birokrasi pemerintahan, namun kakek campuran Jawa Papua ini, juga banyak hadir diberbagai komunitas sosial.

Termasuk dikalangan jurnalis Pacitan, sosok Mbah Sarton, bukanlah hal yang asing. Hampir saban hari, ketika almarhum masih nampak sehat, selalu berkumpul dengan banyak awak media.

Dia pun juga sering membantu informasi kepada para jurnalis, utamanya terkait penanganan kasus covid-19 di lingkungan tempat tinggalnya di Kelurahan Ploso, Pacitan.

Tentu kepergian Mbah Sarton, banyak dari para profesi media yang merasa kehilangan sosok yang dianggap sebagai bapak atau kakek bagi sejumlah kuli tinta itu.

Sekedar informasi, dimasa muda dulu, almarhum Mbah Sarton, dikenal piawai dalam bermain musik. Ia pun pernah bercerita ada kisah kenangan sangat berkesan, ketika sama-sama bermusik dengan Presiden ke enam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Mbah Sarton memang pintar bermain gitar dan pernah menjadi drummer grup band Pemkab Pacitan, kala masih muda dulu. Bahkan diusianya yang sudah menjelang senja, kala itu, ia sering memetik dawai gitar serta melantunkan lagu-lagu tembang kenangan.

Berkat kesupelan dalam pergaulan dan darah seni yang mengalir pada diri almarhum Mbah Sarton, tak salah jika sang maestro campur sari, almarhum Didik Prasetyo, atau lebih moncer dengan nama Didik Kempot, sangat akrab dengan Mbah Sarton.

Sampai-sampai satu album buncit, karya Didik Kempot yang banyak bertutur tentang cinta dan keindahan wisata Pacitan, tak lepas dari kehadiran almarhum Mbah Sarton, saat penggarapannya.

Sebab kala itu, ada salah seorang penyanyi dari Pacitan yang masuk dapur rekaman bersama Didik Kempot. Kehadiran penyayi asal Kecamatan Arjosari tersebut, juga tak lepas dari pendampingan yang dilakukan almarhum Mbah Sarton.

Pesan terakhir dari menu dimsum yang sempat membuat jurnalis senior Pacitan terharu.

Sutikno, jurnalis media online yang dikenal sebagai babat alas adanya jurnalistik di Pacitan sangat trenyuh mengenang pesan terakhir yang diucapkan Mbah Sarton, sebelum akhirnya berpulang. “Almarhum sepertinya sudah merasa kalau akan dipanggil sang pencipta,” kata Sutikno, saat bertemu wartawan di rumah duka, Ahad (28/3).

Menurut pria yang karib disapa Gus Tik ini, kira-kira sepekan lalu, Mbah Sarton bersama anak, menantu dan cucu, sempat singgah di kediamannya di Desa Mentoro. Kebetulan, selain berprofesi sebagai wartawan, Gus Tik, juga membuka usaha rumah makan bergaya klasik modern.

Kenangan bersama almarhum Didik Kempot.
Kenangan bersama almarhum Didik Kempot.

Saat itu, kata Gus Tik, Mbah Sarton sempat memesan menu dimsum, yang khusus diberikan kepada ke empat cucunya. “Mumpung aku durung dipundut (berpulang), putuku Ben seneng yo Pak Tik (cucuku biar senang), bisa makan dimsum,” kata Gus Tik, menceritakan pertemuanya dengan Mbah Sarton sebelum akhirnya berpulang ke Rahmatullah.

Sejak itu, Gus Tik, mengaku ada perasaan aneh yang dirasakan. Apa yang diucapkan oleh Mbah Sarton, dimaknai sebagai kata-kata “pamitan”.

Sebab kabar lain yang ia dengar, meskipun tengah mengalami gangguan pada tangan dan kaki kirinya karena serangan stroke, Mbah Sarton, masih sempat berkeliling bersilaturahmi ke sahabat dan kerabat dekatnya untuk berpamitan. “Sebelum wafat, almarhum dikabarkan sempat bersilaturahmi dengan sahabatnya. Ya mungkin beliau sudah berfirasat,” tutur Gus Tik, dengan mata sedikit sembab.

Kini, firasat yang ia rasakan belakangan terbukti sudah. Mbah Sarton, harus lebih dulu meninggalkan keluarga dan para sahabatnya, untuk menghadap sang pencipta. “Selamat jalan sahabatku. Kami yakin panjenengan orang baik. Semoga Husnul Khatimah, aamiin,” kata Gus Tik menyampaikan doa tulusnya. (yun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed