oleh

Kisah Bu Lestari, Mempertahankan Roda Usaha Pertukangan Emas Dibalik Terpaan Badai Covid-19

-Berita-230 views

Pacitan- Badai coronavirus, sempat meluluh lantakkan hampir semua sektor usaha. Tak sedikit masyarakat yang kehilangan mata pencaharian, gegara terpaan penyakit yang diklaim berasal dari Wuhan, China tersebut.

Namun dibalik prahara yang menimpa urat nadi perekonomian itu, masih ada salah seorang pelaku usaha pertukangan emas di Pacitan, yang masih tetap eksis bertahan demi keberlangsungan kehidupan keluarga.

Meski sempat terseok-seok, namun tak membuat warga keturunan Tionghoa ini patah arang. Ia tetap bersemangat, membuka usaha meski beberapa karyawannya, untuk sementara waktu ini harus dirumahkan, lantaran menurunnya omset penjualan yang begitu drastis sejak munculnya pandemi global coronavirus disease covid-19, setahun lalu.

Itulah sekilas cerita Suprihatin atau lebih dikenal dengan Bu Lestari, dalam menjalankan usaha pertukangan emas.

Saat ditemui di toko dan pertukangan emas miliknya, Bu Lestari bertutur, sudah hampir 30 tahun lebih, ia dan suaminya membuka usaha toko emas sekaligus kerajinan dan pertukangan berbahan baku logam mulia ataupun perak.

Tentu suka dan duka datang silih berganti. “Kami membuka usaha toko emas dan pertukangan ini, sejak harga emas per gramnya Rp 6 ribu. Dulu almarhum ibu anda (ibu dari wartawan, Red) langganan disini,” kata Bu Lestari mengawali ceritanya, Selasa (20/4).

Dari rintisan kecil, akhirnya secara bertahap usaha tersebut maju pesat. Mungkin hampir sebagian besar masyarakat Pacitan tak asing dengan pertokoan emas Lestari yang berlokasi di sepanjang Jalan Gatot Subroto tersebut.

Selain dikenal banyak inovasi dan model perhiasan yang dibuat, pelayanan yang diberikan juga sangat ramah. Itu yang membuat usaha toko emas milik Bu Lestari semakin maju dan tak lekang oleh waktu. “Tapi sudah setahun ini, omset banyak menurun. Ya dengan terpaksa akhirnya empat karyawan harus kami rumahkan sementara. Kecuali pas ada pesanan, baru mereka saya panggil untuk membuat pesanan tersebut,” tuturnya pada pacitanjarrakpos.com.

Menurut Bu Lestari, usahanya sempat mengalami puncak ketika boming batu akik sekitar Tahun 2014 lalu. Dimana hampir saban hari, pesanan mencapai ratusan. Baik itu perhiasan berbahan emas ataupun perak.

Sekarang ini, ia dan keluarganya hanya bisa bertahan. Meski banyak kehilangan omset, namun usaha yang dirintisnya sejak puluhan tahun silam itu, harus tetap berjalan.

Sekalipun setiap hari hanya mendapatkan masukan tak seberapa. “Sekarang ini untuk pemesanan perhiasan emas sangat sepi. Sebab harga emas antam kadar 22 karat sudah tembus Rp 695 ribu dan Rp 900 ribu per gram untuk kadar 24 karat.

Ya untungnya, saya masih punya dagangan perak. Itu yang sangat membantu pemasukan,” jlentrehnya.

Hanya satu yang diharapkan ibu satu anak ini. Semoga badai coronavirus bisa segera reda. Sehingga perlambatan ekonomi masyarakat, bisa kembali menggeliat. (yun).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

1 komentar

News Feed