Tarian Sufi Dikenal Punya Makna Sakral. Namun Sayang Kurang Diminati. Begini Penjelasan Pemerhati Sejarah Islam Di Pacitan

Berita147 views

Pacitan- Tari Sufi, selama ini mungkin banyak dikenal layaknya budaya tarian pada umumnya.

Namun siapa sangka, tarian Sufi ternyata punya makna sejarah cukup kuat dengan masuknya agama Islam ke bumi Pacitan.

Begini sekilas penuturan pemerhati sejarah Islam di Pacitan, Muhammad Taufan.

Menurut Taufan, begitu ia akrab disapa, budaya tarian Sufi, berawal dari Sultan Salaluddin ( Turki Otaman ) di Bumi Arjosari.

Konon, sekitar abad 15 silam, pasukan Raja Demak mulai masuk ke Bumi Pacitan utamanya sebagai basis markas tentara berkuda, yang ada di daerah Arjosari.

“Ditengah perebutan pengaruh agama peninggalan Majapahit (Hindu ), dengan Islam yang saat itu mulai merambah di kalangan bawah. Dalam peperangan, pasukan berkuda yang sebagian besar dari luar dan jauh keluarga mengisi kekosongan waktunya dengan warisan budaya dari Kerajaan Turki Otaman berupa tarian Sufi,” kata pria yang juga menjabat sebagai Camat Punung ini, Kamis (22/4).

Tarian ini diperkenalkan, serta ditampilkan sebagai seni budaya Islam klasik kala itu.

Adapun lokasi tempat tarian Sufi yang penuh dengan kesakralan tersebut berada diatas bukit. “Dan hingga kini masih asli berbentuk lingkaran 360 derajat serta keberadaannya masih sangat terawat,” jelas camat jebolan sekolah kedinasan ini.

Tempat tersebut oleh masyarakat sekitar sangat di uri-uri. Sebab sangat diyakini sebagai tempat keramat yang diberi nama “Dedean”.

Adapun lokasinya berada di Desa Temon, Kecamatan Arjosari yang berbatasan dengan Dusun Purwodadi, Desa Jati malang.

“Tidak heran jika tarian kaum Sufi, warisan Sultan Salaludin itu, hingga saat ini bisa di mainkan oleh warga sekitar. Meskipun tingkat penguasaan tarian tersebut, terkenal sangat sulit,” tuturnya.

Namun sayangnya, pengembangan tarian kaum Sufi, bisa dibilang sangat sulit. Sebab, kurangnya peminat dan kurangnya perhatian dari banyak pihak.

“Semoga saja peninggalan tarian Sufi tersebut dan lokasi situsnya di bumi Arjosari, dapat lestari dan tidak rusak dimakan usia serta jaman,” harap Taufan. (yun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed