Ingat Pilbup Pacitan, Cicipi Dulu “Sate Merak”. Kok Bisa? Begini Sekilas Ceritanya

Uncategorized340 views

Pacitan- Mungkin masih segar dalam ingatan warga masyarakat di Pacitan, tentang soto seger Pak Budi, yang hanya dijual Rp 3.000 per mangkok.

Memang begitulah kenyataannya. Kalau hanya sekedar ingin menikmati semangkok soto ayam untuk mengganjal perut, tak perlu merogoh kocek dalam-dalam. Cukup dengan uang recehan, maka lapar pun jadi hilang.

Lantas bagaimana, perkembangan warung soto milik Pak Budi yang berlokasi di sepanjang Jl DI Pandjaitan tersebut?

Tentu banyak pelanggan berharap, warung soto seger milik Pak Budi masih terus buka.

Belakangan, si pemilik warung kembali menyajikan menu anyar, yang juga murah meriah. Yaitu sate ayam khas Ponorogo.

Menurut si pemilik warung, Budi Setijono, kuliner anyar buatannya itu ia beri nama “Sate Merak”. Arti merak merupakan singkatan dari merakyat. “Ya karena sate ayam disini pas di kantong rakyat, namun terasa seperti menu restoran,” kata Budi, seraya terkekeh, Ahad (6/6).

Untuk sepuluh tusuk sate dengan sambal lengkap, baik sambal kacang ataupun sambal kecap, khas sate Jawa Tengahan, hanya dijual seharga Rp 12.000. “Kalau lengkap beserta lontong atau nasi, Rp 15.000,” sebut pedagang sate bertubuh subur ini.

Lebih lanjut Budi menuturkan, pemberian nama Merak tersebut, diilhami dari sejarah perjuangan saat perhelatan Pilbup serentak 9 Desember lalu.

Selain menekuni warung makan sejak belasan tahun silam, Budi Setijono, juga aktif mengendalikan salah satu partai politik Nasional, yaitu Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

PKPI merupakan salah satu partai mitra koalisi dari pasangan calon bupati dan wakil bupati, Indrata Nur Bayuaji dan Gagarin, saat Pilbup lalu. Dan sekarang ini mereka berdua, telah dilantik sebagai pasangan kepala daerah di Kabupaten Pacitan, masa jabatan 2021-2024.

“Merak yang kepanjangannya merakyat, itu saya maknai dari kisah perjuangan saat Pilbup lalu. Dimana pasangan calon yang kita dukung, memang sangat merakyat. Demikian pula ketika sudah menjabat, kami harapkan juga selalu merakyat. Nah, sate ini sebagai pengeling-eling buat saya khususnya dan juga Pak Bupati serta Wakil Bupati agar selalu ingat rakyatnya,” beber Budi.

Masih dikesempatan yang sama, Budi juga menuturkan, untuk bisa membuat sate ayam yang rasanya sangat enak dengan daging yang begitu empuk tersebut, ia harus sinau dulu dengan salah seorang pedagang sate di Ponorogo.

“Nggak mudah untuk bisa membuat sate itu ternyata. Saya harus sinau, ngudi kaweruh ke Ponorogo. Setelah itu, baru siap untuk berjualan,” tandasnya. (yun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed