Layaknya Bapak Kepada Anak-anaknya. Itulah Perhatian Bupati Aji Kepada Masyarakat Yang Terpapar Coronavirus

Pacitan- Layaknya perhatian seorang bapak kepada anak-anaknya yang saat ini tengah mengalami sakit. Itulah yang dilakukan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji.

Satu demi satu, warga masyarakat yang tengah menjalani isolasi mandiri, ia datangi. Selain memberikan bantuan, bupati berlatar Partai Demokrat ini juga memberikan support, agar mereka lekas terbebas dari paparan covid-19.

Seperti yang dilakukan di Kecamatan Donorojo.
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menyambangi sekaligus memberikan bantuan beras kepada warga. Mereka yang mendapat bantuan adalah masyarakat yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman) akibat terpapar covid 19.

“Menika wonten bantuan sekedhik mugi manfaat. (Ini ada sedikit bantuan semoga bermanfaat) ,” sapa Bupati kepada salah satu warga isoman, Selasa (02/08).

Selain menyerahkan bantuan Mas Aji juga memberikan dukungan semangat. Bersama Plt. Kepala Dinas pangan Bambang Supriyoko, orang nomor satu di Pacitan itu menyapa dan berbincang dengan warga yang sedang isoman meski dari luar rumah. Dia minta warga tetap semangat, patuh dengan protokol isoman serta tidak berfikiran tegang dalam menjalani karantina. Mas Aji berharap bantuan tersebut bisa meringankan beban warga.

Di wilayah Kecamatan Donorojo sendiri tercatat ada 91 kepala keluarga (KK) yang terpaksa menjalani karantina mandiri akibat terpapar covid 19. Masing-masing kepala keluarga menerima bantuan beras dari cadangan pangan Pemkab Pacitan sebanyak 10 Kg. Bantuan serupa juga akan diberikan kepada warga isoman lain di Kabupaten Pacitan sesuai usulan masing-masing kecamatan.

” Bantuan ini untuk saudara kita yang sedang menjalani isoman dan kita sudah siapkan sebanyak 10 ton beras,” terang Plt. Kepala Dinas Pangan Kabupaten Pacitan Bambang Supriyoko.

Sesuai fungsinya, beras cadangan pangan dikeluarkan jika terjadi bencana alam, semisal banjir atau kekeringan yang menyebabkan gagal panen. Selain itu, juga akibat bencana non alam, seperti pandemi wabah seperti saat ini. Adanya pembatasan aktivitas masyarakat nyata berdampak pada resiko terjadi kerawanan pangan meskipun bersifat sementara. (Red/humas/yun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed