Tsunami Gulung Pacitan, Wilayah Penyangga Harus Dipersiapkan

Uncategorized147 views

Pacitan- Wilayah penyangga sangat dibutuhkan ketika bencana alam gelombang tsunami menerjang Pacitan sekitarnya.

Wilayah penyangga inilah yang akan dijadikan sentra pengungsian ataupun gudang logistik dan pusat pemerintahan sementara.

Perlu diketahui, seperti yang pernah disampaikan BMKG bahwa pusat pemerintahan, pusat perekonomian yang merupakan sentra mobilitas warga, berada di Pacitan kota. Sementara disisi lain, kawasan kota menjadi jangkauan tsunami. Tentu hampir 90 persen lebih akan menjadi wilayah terdampak bencana paling parah.

“Kita sangat tak berharap, musibah bencana alam berskala besar akan terjadi. Namun seandainya Allah SWT menghendaki, kita harus persiapkan wilayah penyangga. Sebab tidak menutup kemungkinan kawasan kota bakal luluh lantak dan lumpuh total seandainya gelombang tsunami menerjang,” kata Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Didik Alih Wibowo, Rabu (7/10).

Wilayah penyangga dimaksud, seperti halnya Kecamatan Arjosari, Tulakan dan Pringkuku misalnya. “Kawasan penyangga tersebut juga harus dipersiapkan peralatan. Pun akan dijadikan pos pangan dan tempat evakuasi akhir,” tuturnya.

Lebih lanjut Didik mengatakan, saat musibah bencana banjir bandang tahun 2017 lalu, dibutuhkan waktu lebih dari tiga hari guna dilakukan evakuasi. Salah satu kebuntuan yang terjadi, peralatan yang ada berada di zona banjir.

Belum lagi kalau seandainya terjadi gelombang tsunami. Mungkin tak akan bisa terbayangkan bagaimana kondisi kawasan kota Pacitan. “Merujuk rilis BMKG andaikan terjadi gelombang tsunami pasti akan jauh lebih dahsyat lagi dari banjir bandang 2017 lalu. Ya kita belajar dari tsunami Aceh 2004 silam. Bagaimana dampak kerusakan yang terjadi ketika itu,” beber Didik.

Tentu untuk lebih meminimalisir risiko, harus disiapkan sistem yang terintegrasi. Peran serta relawan sangat dibutuhkan, agar tidak sampai terjadi persoalan ketika ada arus pengungsian. “Saat ini sudah ada 25 komunitas dan relawan yang terdaftar. Mereka yang akan menjadi pemandu disetiap desa. Bagaimana membagi zona aman dengan rambu-rambu yang disiapkan dan bagaimana menata para pengungsi nantinya. Sistem yang tertata, tentu akan mengurangi dampak risiko terutama jatuhnya korban jiwa,” jelas pejabat eselon IIIA ini. (yun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed