Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jatim, Getol Berikan Sosialisasi Kebencanaan Kepada Masyarakat Pesisir. Ingat Pacitan Berpotensi Tinggi Terjadi Gelombang Tsunami

Uncategorized170 views

Pacitan- Sinergitas semua elemen masyarakat, dunia usaha dan pemerintah atau pentahelix, mutlak dilakukan sebagai upaya antisipasi dan penanggulangan dampak bencana alam.

Terlebih di Kabupaten Pacitan, yang masuk dalam gugusan cincin api atau ringe of fire.

Seperti diketahui, bahwa dari 38 kabupaten/kota yang ada di Provinsi Jatim, 33 kabupaten/kota diantaranya, termasuk Pacitan, masuk sebagai daerah rawan bencana.

Berangkat dari persoalan tersebut, tak salah bila semua organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemkab Pacitan, terutama yang memiliki tugas dan fungsi menaungi masyarakat nelayan atau masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir, terus bergerak masif memberikan sosialisasi tentang mitigasi bencana.

Hal tersebut seperti yang dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jatim. Mereka secara rutin memberikan sosialisasi kepada masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir agar memahami bagaimana melakukan mitigasi bencana.

“Kegiatan tersebut diharapkan bisa memberi edukasi kebencanaan kepada masyarakat agar mereka tanggap seandainya benar terjadi musibah bencana alam, utamanya gelombang tsunami.

Dengan begitu, setidaknya akan bisa meminimalisir kerugian harta benda ataupun jatuhnya korban jiwa,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan Pacitan, Sumoro Hadi, usai membuka kegiatan sosialisasi kebencanaan, Senin (16/11).

Dia menegaskan, kegiatan sosialisasi terkait kebencanaan itu rutin dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jatim dengan melibatkan kelompok masyarakat yang berada di wilayah pesisir. “Kita ketahui sebagaimana rilis yang disampaikan BMKG bahwa Pacitan rentan terjadinya bencana tsunami.

Kita tekankan bagaimana pentingnya antisipasi seandainya terjadi musibah bencana alam,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sumoro Hadi mengatakan, dengan adanya sosialisasi secara periodik, disamping masyarakat akan lebih memahami terkait mitigasi bencana, mereka juga akan lebih sadar untuk menjaga kelestarian hutan di kawasan pesisir.

“Setidaknya akan muncul kesadaran, agar mereka bisa melakukan langkah-langkah preventif. Seperti menjaga kelestarian hutan pantai, hutan mangrove sebagai salah satu pelindung seandainya terjadi terjangan gelombang tsunami,” bebernya.

Yang juga harus dipahami masyarakat, Pacitan memang menjadi atensi tinggi pemerintah provinsi ataupun pusat. Mengingat pusat pemerintahan ada di zona merah kebencanaan.

Seperti halnya kantor bupati, kantor kepolisian ataupun komando distrik militer. Bahkan gedung BPBD pun berada di zona merah, termasuk gedung Bulog yang merupakan lumbung pangan masyarakat.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan kabupaten/kota tetangga lainnya. Seperti halnya Trenggalek, pusat pemerintahan jauh berada di luar zona merah kebencanaan. (yun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed