Wacana Reposisi Jabatan, Fenomena Saling Sikut dan Saling Sodok Bisa Terjadi?

Pacitan- Reposisi atau mutasi jabatan, merupakan fenomena lazim, yang jamak dijumpai disetiap pergantian rezim pemerintahan. Baik di lingkungan birokrasi ataupun lembaga serta badan usaha.

Demikian juga di era pemerintahan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji dan Wabup Gagarin. Kebijakan memutasi serta mempromosikan pejabat, juga akan dilaksanakan, entah cepat ataupun lambat.

Puas atau kekecewaan, hampir bisa dipastikan bakal berlangsung, paska dibesutnya beleid mengenai reposisi jabatan nantinya. Meski begitu, semua itu tak lepas dari kepentingan sebuah organisasi, agar mesin-mesin mereka semakin “hangat” dan siap tancap gas untuk melayani masyarakat.

Namun dibalik kasak-kusuk mutasi, suara sumbang pun banyak menggelinding. Utamanya, mereka yang “haus” akan jabatan. Pun mereka yang ingin berpindah ke posisi jabatan yang dipandang lebih “basah”. Saling sikut dan saling sodok, bisa saja berlangsung.

Persoalan tersebut sangatlah wajar. Sebagai aparatur atau pegawai di lingkaran birokasi, lembaga maupun badan usaha, tak salah bila mereka saling berkompetisi untuk memenuhi hasrat pribadi.

Yang terang-terangan meminta pos jabatan atau mutasi ke tempat yang lebih basah pun, juga nyaring terdengar.

Namun dibalik semua itu, juga tak sedikit pula yang hanya bisa pasrah dengan keadaan.

Mungkin bagi mereka, jabatan dipandangnya sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik di dunia atau di akhirat kelak.

Lantas bagaimana hasil dari ikhtiar Bupati Indrata Nur Bayuaji, dalam menyusun kabinetnya? “Kita tunggu setelah surat keputusan dibacakan dalam prosesi pelantikan calon pejabat nantinya.” (yun).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed